Program ROOTS yang diluncurkan oleh UNICEF kini telah menjangkau Kota Sorong, Papua Barat Daya, melalui kemitraan strategis dengan LPKIPI (Lembaga Pelatihan dan Konsultan “Inovasi Pendidikan Indonesia”). Pada 2023, kedua lembaga ini menggelar workshop evaluasi yang melibatkan guru, siswa, dan pemangku kepentingan pendidikan untuk memperkuat dampak program dan membentuk Satgas Kekerasan di sekolah. 🎯 Tujuan Program ROOTS – Mencegah perundungan (bullying) di lingkungan sekolah melalui pendekatan berbasis siswa. – Mendorong disiplin positif yang tidak mengandalkan hukuman, melainkan membangun kesadaran dan empati. – Membentuk agen perubahan dari kalangan siswa yang dilatih untuk menjadi pelopor anti-kekerasan. 🧩 Komponen Utama Program – Pelatihan fasilitator sekolah untuk mengimplementasikan modul ROOTS secara konsisten. – Sesi reflektif dan diskusi kelompok yang melibatkan siswa dalam memahami dampak perundungan. – Pembentukan Satgas Kekerasan Sekolah, yang terdiri dari guru dan siswa, untuk merespons dan mencegah kasus kekerasan secara sistematis. – Evaluasi partisipatif yang melibatkan semua pihak untuk menilai efektivitas program dan merancang perbaikan. 📍 Dampak di Sorong – Sekolah-sekolah di Sorong mulai menerapkan pendekatan disiplin positif dan melibatkan siswa sebagai agen perubahan. – Terjadi peningkatan kesadaran tentang bentuk-bentuk perundungan, termasuk cyberbullying dan kekerasan verbal. – Guru dan kepala sekolah mendapatkan panduan praktis untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif. 🤝 Peran LPKIPI dan UNICEF – LPKIPI berperan sebagai mitra lokal yang memahami konteks pendidikan inklusif di Papua Barat Daya dan mendampingi sekolah dalam pelaksanaan ROOTS. – UNICEF menyediakan modul, pelatihan, dan dukungan teknis berdasarkan hasil evaluasi nasional dan praktik terbaik internasional. Program ROOTS di Sorong menjadi contoh nyata bagaimana pendekatan berbasis siswa dan kolaborasi lintas lembaga dapat menciptakan perubahan budaya sekolah yang lebih aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang anak.







LPKIPI (Lembaga Pelatihan dan Konsultan Inovasi Pendidikan Indonesia) bekerja sama dengan HWDI (Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia) untuk meningkatkan kualitas pendidikan inklusif di Kabupaten Sidoarjo. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pelatihan dan pendampingan kepada sekolah-sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan mendukung bagi semua siswa, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus .
Dalam kegiatan ini, LPKIPI dan HWDI fokus pada pengembangan kapasitas guru dan staf sekolah untuk memahami dan mengimplementasikan konsep pendidikan inklusif. Mereka juga menyediakan pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan keterampilan guru dalam mengelola kelas inklusif dan mengembangkan rencana pembelajaran individual (PPI) bagi siswa berkebutuhan khusus
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan inklusif di Indonesia dan memberikan kesempatan yang sama bagi semua siswa untuk belajar dan berkembang. HWDI juga telah melakukan berbagai kegiatan untuk meningkatkan hak-hak perempuan penyandang disabilitas, termasuk pelatihan kewirausahaan dan bimbingan teknis . Kegiatan ini dilakukan berkat kerjasama antara dinas pendidikan dan kebudayaan Sidoarjo yang didukung oleh program INOVASI Jawa Timur





Nabire, Papua Tengah — Sebanyak 644 siswa dari jenjang SMP, SMA, dan SMK di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah, mengikuti kegiatan Workshop Pelatihan Desain Grafis Dasar bertajuk “Kreativitas Tanpa Batas, Pelatihan Dasar Desain Grafis untuk Siswa”. Kegiatan ini dilaksanakan di beberapa sekolah di Kabupaten Nabire pada tanggal 20-22 Oktober 2025 untuk jenjang SMP dan 23-25 Oktober 2025 untuk jenjang SMA/SMK, dengan total 24 jam pelatihan intensif yang difasilitasi oleh tim instruktur desain grafis dari Lembaga Pelatihan dan Konsultan, Inovasi Pendidikan Indonesia (LPKIPI)
Workshop ini diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Papua Tengah, bekerjasama dengan LPKIPI dan dirancang untuk membekali siswa dengan keterampilan desain grafis menggunakan platform Canva, sebuah aplikasi berbasis web yang mudah digunakan dan sangat cocok bagi pelajar. Melalui pelatihan ini, siswa diajak untuk memahami prinsip dasar desain grafis, mengolah elemen visual seperti warna, tipografi, dan tata letak, serta menghasilkan karya kreatif berupa poster, konten media sosial, dan presentasi digital.
Kegiatan ini bertujuan untuk Meningkatkan literasi digital siswa dalam bidang desain dan komunikasi visual; Membekali siswa dengan keterampilan praktis menggunakan Canva; Menumbuhkan kreativitas dan kepekaan estetika; Mendorong kolaborasi dan kerja tim melalui proyek desain bersama, serta Mendukung pembentukan Profil Pelajar Pancasila, khususnya dalam aspek kreatif, mandiri, dan gotong royong.
Para peserta juga diharapkan mampu membangun portofolio digital sederhana yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan sekolah, lomba, atau kampanye sosial. Bagi sekolah, kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis teknologi dan kreativitas, serta mendukung kurikulum berbasis proyek (project-based learning).
Peserta workshop berasal dari berbagai sekolah di Papua Tengah dan dipilih berdasarkan minat mereka di bidang desain, multimedia, dan komunikasi visual. Dengan semangat belajar yang tinggi, para siswa menunjukkan antusiasme luar biasa dalam mengikuti setiap sesi pelatihan, mulai dari pengenalan prinsip desain hingga praktik langsung membuat karya visual.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari pihak sekolah yang melihat pelatihan ini sebagai peluang untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih adaptif terhadap perkembangan digital dan kebutuhan zaman.



LPKIPI (Lembaga Pelatihan dan Konsultan Inovasi Pendidikan Indonesia) melakukan kajian untuk mengembangkan SMK terintegrasi di Papua Tengah. SMK Terintegrasi dimaksudkan untuk mengintegrasikan SMK, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Lembaga Kursus, dan Balai Latihan Kerja (BLK). Tujuan dari kajian ini adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan vokasi di Papua Tengah dan memastikan bahwa lulusannya memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri dan pasar kerja.
Dalam mengembangkan SMK terintegrasi, LPKIPI fokus pada beberapa aspek, seperti:
- Pengembangan Kurikulum: Menyusun kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri dan pasar kerja di Papua Tengah.
- Pelatihan Guru: Meningkatkan kapasitas guru SMK untuk mengajar dengan metode yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan industri.
- Kemitraan dengan Industri: Membentuk kemitraan dengan industri dan perusahaan untuk meningkatkan kesempatan kerja bagi lulusan SMK.
- Pengembangan Infrastruktur: Meningkatkan infrastruktur SMK untuk mendukung proses belajar mengajar yang lebih efektif.
- Pengembangan model kelembagaan SMK terintegrasi
Dengan demikian, LPKIPI dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan vokasi di Papua Tengah dan meningkatkan kesempatan kerja bagi lulusan SMK





LPKIPI (Lembaga Pelatihan dan Konsultan Inovasi Pendidikan Indonesia) melakukan kajian revitalisasi KPG (Kolase Pendidikan Guru) di Papua Tengah, yang merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas Pendidikan dan pemenuhan kebutuhan guru, khususnya guru TK dan SD di daerah tersebut. KPG dirancang untuk menyiapkan calon guru yang meiliki komitmen yang tinggi dan siap mengajar di daerah asalnya.
Program revitalisasi pendidikan ini bertujuan untuk memperbaiki Pengelolaan KPG sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan memastikan sekolah menjadi aman, layak, dan bermutu untuk semua dan menyiapkan ketersedian guru terutama di tingkat SD dan TK. LPKIPI, sebagai lembaga yang fokus pada inovasi pendidikan, terlibat dalam kajian dan perencanaan program ini
SD Muhammadiyah 4 Zam Zam, Kecamatan Sukodono, menjadi tuan rumah kegiatan Diseminasi Pendidikan Inklusif yang diselenggarakan oleh Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) bekerja sama dengan LPKIPI sebagai mitra program Inovasi. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh guru dan kepala sekolah sebagai bentuk komitmen sekolah untuk memperkuat pemahaman dan praktik pendidikan inklusif.
Acara diseminasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada pendidik mengenai pentingnya menyediakan layanan pendidikan yang setara bagi semua anak, termasuk anak penyandang disabilitas. Melalui kegiatan ini, para guru mendapatkan wawasan tentang strategi pembelajaran inklusif, identifikasi kebutuhan peserta didik, serta penguatan peran sekolah dalam menciptakan lingkungan yang aman dan ramah bagi setiap anak.
Dalam pemaparannya, tim HWDI dan LPKIPI menekankan bahwa pendidikan inklusif bukan hanya persoalan teknis pengajaran, tetapi juga perubahan budaya sekolah agar lebih menghargai keberagaman. Guru didorong untuk menerapkan pendekatan fleksibel, memahami karakteristik masing-masing peserta didik, serta meningkatkan kolaborasi dengan orang tua dan komunitas.
Kepala SD Muhammadiyah 4 Zam Zam menyambut baik kegiatan ini dan menyampaikan bahwa sekolah berkomitmen untuk terus meningkatkan kapasitas guru dalam menghadirkan layanan pendidikan yang berkualitas bagi semua siswa tanpa terkecuali. Kegiatan diseminasi ini juga menjadi langkah awal untuk memperkuat sinergi antara sekolah dan lembaga mitra dalam mendukung pemenuhan hak pendidikan bagi anak penyandang disabilitas.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan SD Muhammadiyah 4 Zam Zam dapat menjadi contoh sekolah yang menerapkan prinsip inklusivitas secara konsisten serta mampu menciptakan lingkungan belajar yang adil, ramah, dan berpihak pada anak.